Rabu, 20 April 2011

Berinteraksi dengan Bumi

Bumi adalah planet yang menjadi satu-satunya tempat yang bisa dihuni oleh mahluk hidup. Bumi dan segala komponennya dapat bergerak maupun berubah sendiri sesuai dengan siklusnya. komponen bumi yang terdiri dari Hidrosfer (air dan samudra ), Atmosfer ( udara dan gas ), serta CMCspher ( kerak,mantel,dan inti bumi ) punya siklus masing-masing dan saling berinteraksi. Interaksi di dalamnya juga terdapat interaksi dengan komponen lain yaitu Biosfer ( mahluk hidup ). Mahluk hidup disini manusia yang sangat memiliki pera penting terhadap interaksi ini, ini disebabkan manusia memiliki akal dan pikiran yang dapat berfikir akan merusak atau menjaga komponen bumi yang lain sehingga tidak terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap Bumi. Ini mengingat usia bumi kita yang semakin tua ada baiknya kita merawat planet kita ini seperti merawat diri kita "Bumi = Manusia". 

Seperti perubahan iklim yang ramai diperbincangkan oleh orang-orang (yang peduli) di dunia ini. Sangat sensitif sekali jika membicarakan hal ini, ada yang mengatakan hanya sekedar tren ikut ribut membicarakan perubahan iklim, hanya ikut-ikutan, atau apalah. Mengacuhkan semua penilaian orang saya mencoba untuk membicarakan masalah ini,hanya sekedar ingin membagi cerita.

Perubahan iklim. Banyak ilmuwan melihat gas rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global. Berbagai macam riset dilakukan untuk mengetahui sejauh mana gas-gas tersebut mempengaruhi perubahan iklim. Hanya saja ada ilmuwan-ilmuwan lain yang mencoba mengambil sudut pandang lain tentang pemanasan global. Salah satunya adalah Lorraine Lisiecki, ahli geologi dari University of California di Santa Barbara AS. Lisiecki melakukan penelitian terhadap sedimen-sedimen lautan dari 57 lokasi di dunia. Sebagai seorang geologist, Lisiecki mendapatkan kesimpulan bahwa ada kaitan antara iklim dan orbit bumi. 

Sebagai informasi, orbit bumi dalam mengelilingi matahari selalu berubah setiap 100.000 tahun, dari bentuknya (eccentricity) yang bulat hingga lebih lonjong selama interval tersebut. Sementara itu, sudut kemiringan bumi terhadap sumbunya juga berubah dalam siklus 41.000 tahun. Berdasar riset pembentukan glacier atau lapisan es di permukaan bumi terjadi setiap 100.000 tahun, siklus yang sama dengan berubahnya bentuk orbit bumi. Lisiecki mendapati fakta bahwa waktu terjadinya perubahan iklim dan eccentricity berkaitan. Data hasil risetnya memang memperkuat hal tersebut. 

Selain relasi tersebut, ada sebuah temuan yang juga mengejutkan, yaitu siklus pembentukan glacier terbesar terjadi pada saat perubahan yang paling lemah dari bentuk orbit bumi dan begitu juga sebaliknya. Menurut Lisiecki, artinya iklim bumi mempunyai ketidakstabilan internal akibat sensitivitas perubahan orbit.  Di akhir laporan risetnya yang juga diterbitkan di jurnal Nature Geoscience, Lorraine Lisiecki menyimpulkan bahwa perubahan iklim juga memiliki pola selama lebih dari jutaan tahun dan terkait dengan tiga sistem orbit yang berbeda, yaitu kemiringan terhadap sumbu dan bentuk orbit serta perubahan orientasi pada sumbu rotasi.  
 
Meski tampaknya hasil riset tersebut sedikit melegakan, tetapi tidak berarti umat manusia harus menunggu selama 100.000 tahun agar lapisan es, baik di kutub maupun puncak gunung kembali seperti semula tanpa melakukan apapun untuk mengurangi laju pemanasan global yang diakibatkan oleh manusia.  (Perubahan iklim adalah siklus 100.000 tahun bumi mengorbit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar