Setelah beberapa postingan yang lalu membahas persoalan tentang energi, saat ini akan dijelaskan sedikit mengenai potensi energi bersih di Indonesia. Selain Biomassa, Indonesia memiliki bebrapa potensi energi bersih lainya.
1. Energi Angin
Menurut Indonesia Energy Outlook and Statistics yang diterbitkan Pengkajian Energi Universitas Indonesia (2006 ) dalam periode 2025, diproyeksikan kebutuhan listrik domestik mencapai 440,5 GWh, sebanyak 83%-nya masih bergantung pada batu bara dan gas alam. Sementara kontribusi dari energi terbarukan hanya 13,1 persen. Meski baru proyeksi, tentu saja ini angka yang mengkhawatirkan, ditilik dari sisi lingkungan.
Dengan kontur lanskap yang kaya, Indonesia seharusnya juga memiliki peluang untuk menikmati potongan kue energi dari angin. Sayangnya, masih minim sekali riset potensi angin sebagai sumber energi terbarukan. Di Bukit Mundi, Desa Klumpu, Nusa Penida, penelitian terowongan angin malah dinilai gagal karena pada kenyataannya kincir yang sudah telanjur dibangun hampir tidak pernah berputar.
Penelitian terakhir yang dilakukan BMG adalah 16 tahun lalu, itu pun tanpa memerinci potensi kapasitasnya (hanya penelitian kecepatan angin). Padahal, dari hasil penelitian kecepatan angin, rata-rata wilayah yang disurvei memiliki kecepatan skala sedang (3-4 meter per detik) hingga besar (lebih dari 4 m/s) pada ketinggian 24m. Energi angin adalah sumber energi yang ramah lingkungan, karena ditenagai oleh angin: sumber ini tidak mengotori udara kayaknya pembangkit yang mengandalkan pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau gas alam. Turbin angin juga tidak melemparkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Yang tak kalah penting, energi angin bergantung pada tenaga angin yang dapat diperbarui (dan mungkin tidak akan habis, selama kondisi iklim tidak berubah secara drastis). Dari sisi keekonomian, energi angin merupakan salah satu teknologi energi terbarukan paling murah saat ini.
Sebagai negara agraris, Indonesia juga “diuntungkan” dengan energi angin. Turbin angin bisa dibangun di atas lahan sawah atau ladang kebun karena tiangnya tidak banyak membutuhkan ruang, sehingga tidak mengganggu kegiatan pertanian/perkebunan. Ditambah lagi, pemilik instalasi turbin bisa menyewa lahan dari petani/pemilik lahan sehingga mendatangkan pemasukan bagi petani di pedesaan, di mana tenaga angin biasanya berada.
Akan tetapi, bukan berarti energi angin tidak memiliki kerugian. Investasi awal pembangunan turbin angin dinilai lebih besar daripada membangun generator bahan bakar fosil. Tantangan lainnya adalah, tiupan angin bersifat sporadis, dan tidak selalu ada ketika dibutuhkan. Energi angin juga tidak bisa disimpan, kecuali dilengkapi dengan aki. Lokasi energi angin biasanya terletak di pedesaan, padahal kebutuhan energi listrik lebih banyak di perkotaan sehingga ada kendala transportasi energi.
Dari sisi lingkungan, meski energi angin relatif bersih, banyak kasus baling-baling kincir angin membunuh populasi burung, dan mengeluarkan polusi suara yang mengganggu.
2. Energi Air
Indonesia mempunyai jumlah air permukaan terbanyak kelima di dunia, yang jumlah air ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air. Dengan membuat waduk atau bendungan sebagai sarana untuk mengkonversikan energi air ini menjadi energi listrik, dengan cara mengalirkan air yang di tamping di waduk dengan ketinggian tertentu yang nantinya tenaga dari air ini yang di pengaruhi oleh gravitasi akan mampu memutar turbin sehingga dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Untuk mengantisipasi akan krisis energi nantinya kenapa tidak energi air ini di maksimalkan, selain itu dengan di bangunya waduk atau bendungan, dapat mencegah terjadinya banjir Selain itu, PLTA juga menjadi jawaban untuk pembangkit tenaga yang tidak menghasilkan CO2 seperti dihasilkan bahan bakar fossil meski ada yang menuduh peningkatan CO2 diatmosfir terjadi akibat pembangunan bendungan dan beroperasinya waduk. Karena itu pada pencanangan energi 10.000 MW berikutnya diharapkan 7000 diantaranya dari tenaga air. Pembangkit listrik dengan energi air juga memiliki biaya operasi rata-rata per kWh pembangkit hydro adalah paling rendah dibanding pembangkit tipe yang lain hanya Rp 140/kWh. Saat ini PLN mengelola dan mengoperasikan pembaangkit hydro dengan skala besar dan kecil yang tersebar di Indonesia. Meski demikian, tantangan yang dihadapi pembangunan bendungan diantaranya masalah sosial, erosi di daerah tangkapan dan sedimentasi pada waduk. Akibatnya umur waduk tak suseai dengan yang direncanakan.
Unit pembangkit hydro berjumlah 203 unit dengan total kapasitas terpasang sekitar 3.529 MW dan produksi energi sekitar 8.759 GWh. PLN katanya mendorong pengembangan pembangkit hydro cdengan bendungan, diantaranya pembangunan bendungan Serbaguna Jatigede, Jabar (108 MW), PLTA Kusan, Kalimantan (135 MW), bendungan Upper Cisokan Pumped Storage Hydroelectric Plant, Jabar (1000 MW), bendungan Rajamandala Jabar (35 MW), PLTA Genyem, Papua (20 MW), PLTA Poigor 2 Sulawesi Utara (20 MW), dan bendungan PLTA Asahan 3 Sumatera Utara (150 MW).
Energi panas bumi merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan, oleh karena itu panas bumi merupakan energi masa depan mengingat emisinya sangat rendah.
Indonesia sebagai daerah vulkanik mempunyai potensi panas bumi yang cukup banyak. Potensi panas bumi terdapat di sepanjang pulau Sumatera, Jawa-Bali, NTT, NTB, Kepulauan Maluku, Laut Banda, Halmahera, dan terdapat pula di pulau Sulawesi. Indonesia memiliki 40% cadangan energi panas bumi dunia atau setara dengan 20.000MW, sehingga Indonesia merupakan negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Potensi terbesar energi panas bumi terdapat di pulau Jawa yaitu di Jawa Barat , yaitu hampir 20% dari cadangan panas bumi di Indonesia tepattyna di Pulau Jawa yang sudah di temukan saat ini. Potensi energi panas bumi juga terdapat di provinsi lain di Indonesia, diantara lain provinsi Jawa Tengah, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan beberapa provinsi di Sulawesi, NTT, dan NTB. Dari deretan ini terdapat lebih dari 70 sumber energi panas bumi yang memiliki prospek untuk dikembangkan sekitar 20.000 MW.
Dengan tersebarnya sumber energi panas bumi tersebut dalam kaitanya pemerataan sumber energi yang mengutungkan, karena pusat-pusat pembangkit listrik energi panas bumi dapat dibangun dengan tersebar, yaitu di daerah-daerah dimana sumber panas bumi ditemukan. Kesulitan yang dihadapi adalah letak dari sumber energi panas bumi tersebut kebanyakan berada di daerah-daerah terpencil yang sukar transportasinya. Saat ini potensi energi pasn bumi baru dimanfaatkan urang dari 1.000 MW. (Supranto,"Konservasi Energi",2008)
4. Energi Surya
Daratan Indonesia luasnya sekitar 2000km2 yang terletak di sekitar khatulistiwa dengan insolasi surya rata-rata 600-700 W/m2 selama 8 jam per hari, seandainya satu permil saja dari energi surya yang menimpa bumi di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk penyediaan listrik sel surya dengan efisiensi 10% saja, maka akan diperoleh bekalan listrik sebesar lebih dari 800.000 kWh. Karena efisiensi yang masih rendah ini menyebakan PLTS memerlukan lahan yang luas. Hal ini merupakan salah satu penyebab harga PLTS menjadi mahal. Selain itu mahalnya sel surya juga disebabkan karena komponen sel suya masih impor, tetapi sel surya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah terpencil.Lebih dari itu pembangkit listrik tenaga surya memiliki beberapa keuntungan:
- Energi yang digunakan tersedia dengan Cuma-Cuma
- Perawatanya mudah dan sederhan
- Tidak terdapat komponen yang bergerak, sehingga tidak perlu penggantian suku cadang dan pelumasan secara periodik
- Peralatan bekerja tanpa suara, sehingga tidak menimbulkan kebisingan
- Dapat bekerja dengan otomatis
(Supranto,"Konservasi Energi",2008)
6. Energi Ombak
Kenyataanya, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Norwegia. Sayangnya potensi energi pantai yang ada belum banyak dimanfaatkan. Masalah yang terjadi dalam kebutuhan manusia adalah kesenjangan antara kebutuhan hidup serta persediaan energi. Seperti saat ini kebutuhan akan minyak semakin turun, dikhawatirkan 5 tahun mendatang kebutuhan akan energi akan habis, lalu bagaimana dengan nasib anak cucu kita nanti? Oleh karena itu perlu adanya pemanfaatan energi sumber daya hayati yang perlu dikembangkan saat ini.
Sumber daya hayati yang ada di planet bumi ini salah satunya adalah lautan. Selain mendominasi wilayah di bumi ini, laut juga mempunyai banyak potensi pangan (beranekaragam spesies ikan dan tanaman laut) dan potensi sebagai sumber energi. Energi yang ada di laut ada 3 macam, yaitu: energi ombak, energi pasang surut dan energi panas laut.
Salah satu energi di laut tersebut adalah energi ombak. Sebenarnya ombak merupakan sumber energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut yang turun-naik atau bergulung-gulung. Energi ombak adalah energi alternatif yang dibangkitkan melalui efek gerakan tekanan udara akibat fluktuasi pergerakan gelombang.
Energi ombak dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik, seperti saat ini telah didirikan sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak (PLTO) di Yogyakarta, yaitu model Oscillating Water Column. Tujuan didirikannya PLTO ini adalah untuk memberikan model sumber energi alternatif yang ketersediaan sumbernya cukup melimpah di wilayah perairan pantai Indonesia. Model ini menunjukan tingkat efisiensi energi yang dihasilkan dan parameter-parameter minimal hiroosenografi yang layak, baik itu secara teknis maupun ekonomis untuk melakukan konversi energi.
Semoga bahasan kali ini dapat menambah pengetahuan teman-teman, serta mengerti betapa kayanya Indonesia ini, dengan banyak potensi energi bersih atau energi masa depan yang dapat dimanfaatkan dan dapat mengurangi emisi gas CO dan CO2 serta tanpa harus tergantung pada energi fosil yang masih menjadi sumber energi utama untuk pembangkit tenaga listrik...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar